728x90 AdSpace

Info Terkini Rajawali Selatan
Rabu, 05 Desember 2018

Benarkah Ada Penculikan Mahasiswa di Surabaya

Surabaya - Setelah berakhirnya aksi damai memperingati 1 Desember 1961, diberitakan beberapa media onl;ine bahwa dua mahasiswa non-Papua ditangkap polisi di bawah komando Kanit Resmob Polrestabes Surabaya Iptu Bima Sakti di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Sabtu (1/12/2018) sekitar pukul 24.00.

Arifin Agung Nugroho, 19 tahun dan Fachri Syahrazad, 20 tahun adalah korbannnya.  Keduanya juga menjadi korban kekerasan dan intimidasi polisi.

"Rantai kaca mataku putus itu waktu ditampar, waktu mau dinaikkan ke mobil itu intelnya banyak banget, ada sekitar 10. Itu ada yang dorong, nampar, narik." begitu cerita Arifin.

Mahasiswa Universitas Surakarta (Unsa) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu sempat meminta menghubungi pendamping hukum atau kuasa hukum, keluarga, maupun rekannya. Akan tetapi permintaan itu ditolak polisi. Gawai, tas, dompet, hingga buku mereka disita polisi. Mereka kemudian dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Arifin diancam Pasal 160 KUHP karena diduga menghasut menggunakan media peraga. Hukuman pidana penjaranya paling lama enam tahun. Ini lantaran Arifin membawa kenang-kenangan dari rekannya yaitu ikat kepala berlambang bintang kejora dan stiker Aliansi Mahasiswa Papua (AMP).

Pada berita yang beredar Arifin mengaku tak pernah ikuti rapat terkait aksi 1 Desember di Surabaya. Dia datang langsung dari Solo ke Monumen Kapal Selam, Surabaya, pagi hari, dan ikut bergabung dengan barisan massa 1 Desember yang dominan mahasiswa asli Papua.

Fachri diancam Pasal 106 KUHP. Delik itu terkait dengan makar. Ancaman hukumannya penjara seumur hidup atau 20 tahun penjara, padahal jangankan rapat, aksi 1 Desember di Surabaya pun dia tidak ikut.

"Saya sempat disikut perut saya," kata Fachri mengisahkan kekerasan aparat kepada para reporter media online..

"Dompet saya diambil, digeledah isinya. Dicari identitas saya. HP juga dicek jaringan saya. Siapa yang saya hubungi, kontak, koordinasi dicek semua," keluhnya.

Sementara itu, kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera dan Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan membantah aparatnya menangkap Arifin dan Fachri. Bahkan Frans sempat mengadakan jumpa pers di Mapolda Jatim.

Frans mengakui dua mahasiswa itu ada di Polrestabes Surabaya. Namun kebingungan muncul ketika Frans menegaskan Arifin dan Fachri tidak menghilang tapi menghilangkan diri.

"Menghilangkan diri dengan maksud supaya membentuk opini bahwa pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini aparatur yang menangani kejadian kemarin ini melakukan hal-hal yang tidak terpuji, padahal mereka menghilangkan diri," katanya yg dikutif dari media online

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran pada, Senin (3/12/2018). Dia menegaskan tak ada penahanan dan penangkapan terhadap Arifin dan Fachri.

Namun saat ditanya apa benar dua mahasiswa itu sempat diperiksa Polrestabes Surabaya, Sudamiran menjawab, "Tidak ada, hanya tanya-tanya saja." Dan sekitar pukul 17.00, keduanya diperbolehkan pulang setelah dijemput orang tua dan pendamping hukum.




A. Ms Hers
dari berbagai sumber
loading...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Benarkah Ada Penculikan Mahasiswa di Surabaya Rating: 5 Reviewed By: Rajawali Selatan