Makassar (SulseNews) - Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan jika kenaikan beberapa komoditas serta tarif jasa penerbangan menjadi pendorong inflasi sekitar 0,28 persen pada November 2018.

"Ada enam kelompok pengeluaran yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga konsumen (IHK) dan menjadi penyebab terjadinya inflasi," ujar Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah di Makassar, Senin.

Ia mengatakan inflasi 0,28 persen yang terjadi di Sulawesi Selatan pada November 2018 ini disebabkan oleh naiknya harga pada enam kelompok pengeluaran yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga konsumen pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,18 persen.


Pada kelompok kesehatan mengalami kenaikan 0,30 persen; kelompok sandang (0,17 persen); kelompok perumahan, air listrik, gas dan bahan bakar (0,14 persen).

Untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,10 persen); kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memberi kontribusi (0,07 persen); sementara kelompok bahan makanan mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,04 persen.

Yos Rusdiansyah menyatakan secara tahun kalender atau dari Januari-November 2018, laju inflasi Sulawesi Selatan sebesar tercatat 2,62 persen dan laju inflasi year on year November 2018 terhadap Oktober 2017 sebesar 3,68 persen.

Dia menerangkan beberapa komoditas yang memberikan andil tertinggi terhadap inflasi Sulawesi Selatan pada November 2018 antara lain: tarif angkutan udara, emas perhiasan, kangkung, beras, ikan cakalang, daging sapi, cabe merah, sawi hijau, anggur, dan bensin.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah: daging ayam ras, ikan bandeng, tomat buah, tomat sayur, telur ayam ras, bawang merah, pepaya, jagung manis, bahan bakar rumah tangga dan gula pasir.

"Setiap bulan itu ada komoditas yang mengalami kenaikan dan ada juga yang turun. Komoditas yang turun itulah yang menjadi penyeimbang inflasi," katanya.