728x90 AdSpace

Info Terkini Rajawali Selatan
Rabu, 21 Agustus 2019

Disebut "Monyet" Apa Bedanya Natalius Pigai Dengan Mahasiswa Yang Disurabaya ?


Oleh: Andi MS Hersandy


Kata-kata penyebutan "monyet" yang kali ini menggemparkan NKRI saat ini menjadi tranding topik didunia medsos dan bahkan dijadikan alasan untuk berbuat anarkis melalui kerusuhan yang terjadi di Dua lokasi daerah propinsi paling timur Indonesia yakni Papua, Manokwari dan Sorong.


Ujaran itulah yang kemudian disebut-sebut sebagai pemicu kericuhan yang terjadi di sejumlah kota, baik di Papua Barat maupun Papua. Sejumlah kota menjadi objek perusakan, misalnya Manokwari dan Sorong. Aksi protes juga terjadi di Merauke dan Jayapura.

Kemarin Sebagian organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu, dikumpulkan di Mapolda Jatim, Surabaya, Selasa (20/8). Dan dalam kesempatan itu, mereka meminta maaf jika ada tindakan yang memicu kemarahan warga Papua. Ormas yang meminta maaf tersebut sungguh berhati mulia meski pengakuan mereka bukanlah yang menghina dengan kata-kata monyet para warga Papua.

Ke-Tiga OKP yang mendatangi Polda Jatim itu adalah Front Pembela Islam (FPI), Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia (FKPPI), dan Pemuda Pancasila (PP), padahal Video yang beredar di masyarakat bukan hanya Ormas itu yang berada dikokasi saat kejadian.  forum yang digelar ingin dinjadikan kesempatan ormas terkait untuk menjelaskan dan mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi di lokasi.

"Kami atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas, menyampaikan permohonan maaf apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan (kata rasis) itu," kata perwakilan OKP Tri Susanti, saat mendatangi Mapolda Jatim.

Mereka  membantah pihaknya melakukan pengusiran terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Dia mengatakan, pihaknya hanya ingin menegakkan pengibaran bendera Merah Putih di asrama Papua, yang selama ini mereka tolak untuk memasangnya. padahal penurut pengakuan mereka Tujuannya tak lain hanya untuk Merah Putih dan ternyata berdampak seperti itu yang memungkinkan ada pihak lain yang sengaja mengondisikan.

Penggerebekan sendiri disinyalir terjadi karena adanya bendera Merah Putih di depan asrama yang terjatuh ke selokan. Hingga saat ini, belum diketahui pula siapa yang menyebabkan bendera Merah Putih itu masuk selokan.

Sementara itu, pihak TNI menyatakan, akan menyelidiki oknum yang berpakaian loreng-loreng khas TNI dalam video ujaran berbau rasis saat penggerebekan asrama Papua di Surabaya pada Jumat (16/8) lalu. Sejumlah pria berbaju loreng itu turut ada bersama sekelompok massa yang mengepung asrama.

Di video yang beredar, memang terlihat ada orang-orang pakai baju loreng.  Apakah orang-orang tersebut anggota TNI atau bukan ? menurut TNI bahwa itu ahrus ditindak jelas..

Pihak TNI mengatakan, jika benar oknum yang ada dalam video tersebut adalah oknum TNI, yang bersangkutan akan ditindaklanjuti oleh polisi militer. Kalau anggota TNI akan kita cek dari kesatuan mana dan pasti ditindaklanjuti prosesnya sesuai ketentuan hukum.

Jika demikian adanya, orang-orang yang menyebut Natalius Pigai Monyet harus pula diselidiki dan di Hukum. Membedakan Natalius dengan Mahasiswa Surabaya adalah diskriminatif yang melanggar Pancasila Sila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Nah jika hukum itu adil selayaknya Natalius juga punya hak hukum apalagi Natalius juga orang Papua.  Jangan karena Natalius bertolak belakang sang Penguasa lantas keadilan tak ada untuknya.  Negara macam apa yang membiarkan Hukum hanya untuk pendukung sang Penguasa ?

Nick Haslam, pakar psikologi dari University of Melbourne, Australia membeberkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bagaimana memanggil manusia dengan nama binatang, seperti yang terjadi pada mahasiswa Papua di Jawa Timur, memiliki makna merendahkan dan menimbulkan rasa jijik, tapi penulis mengklirkan bahwa bagaimana dengan orang-orang yang memanggil Natalius Pigai dengan Penyebutan penghinaan kata "Monyet" apakah berbeda dengan warga Papua Lainnya ? Apa bedanya Mahasiswa Surabaya dengan Natalius Pigai ?

Mengapa orang saudara-saudara kita di Papua tidak marah saat Natalius dikatai "Monyet" ? apakah hanya karena Natalius adalah seorang pengkritik pemerintah ataukah memamng Natalius Bukan Warga Papua ?. Pertanyaan seperti ini adalah sangat pantas diucapkan sebagai seorang Natalius Pigai.

Saat kita menyamakan orang dengan makhluk lain akan muncul masalah, misalnya saat fans olahraga menyebut makian rasis, atau Donald Trump menyebut Presiden Suriah Bashar al-Assad seekor binatang, atau saat mahasiswa Papua diduga disebut monyet di Surabaya, Jawa Timur, dan juga penyebutan Natalius Pigai sebagai monyet oleh para pendukung Ahok belum lama ini.

Diketahui selama ini seorang Natalius Pigai sangat dekat dengan Umat Islam dalam barisan 212 dan juga FPI padahal dia seorang Nasrani Tulen.  Natalius Pigai cenderung bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah termasuk pembangunan yang dilakukan Pemerintah di Papua dengan menyebutnya hanya menghabiskan anggaran Daerah

Kembali kekasus Surabaya, dalam video yang beredar di media sosial, terdapat ujaran yang dilontarkan oleh sekelompok massa yang berada di luar Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Mereka mengatai mahasiswa di dalam asrama dengan sebutan “monyet”.

Pada rapat paripurna DPR kemarin 20/8/19, anggota DPR dari dapil Papua Steven Abraham meminta Polri dan TNI mengusut tuntas aparat yang diduga melontarkan ujaran rasialis kepada warga Papua saat penggerebekan asrama Papua di Surabaya.

Imbas kejadian itu, menurut Steven, sudah melebar ke berbagai daerah. Untuk itu, Steven pun meminta aparat bertindak cepat dalam mengusut segala aspek, mulai dari jatuhnya bendera Merah Putih, aksi rasialisme, hingga provokator kerusuhan. kalau tidak cepat kita tangani akan menimbulkan perpecahan yang luar biasa. NKRI yang sudah kita jaga bersama-sama harus kita junjung tinggi

Steven Abraham bersuara lantang bahwa video yang beredar luas jelas-jelas sekali ada pihak oknum TNI Polri yang ikut menyerahkan kata-kata rasis, dan menurutnya ini harus diusut dan ditindak.  Pernyataannya mengapa Steven Abraham tidak bersuara ketiga Natalius Pigai dihina dengan kata-kata yang sama ?

Suatu kritikan yang bersifat analisis mungkin perlu diperjelas dengan tinjauan hukum yang tanpa diskriminasi bahwa semua warga NKRI sama dimata hukum, disamping Pancasila yang selalu dijadikan Faktor kebencian terhadap lawan politik perlu dikesampingkan karena isi dari Pancasila itu ada 5.  Jika diteliti secara mendalam dan seksama bahwa dinegara kita ini banyak yang terjebak oleh hukum dengan alasan melawan Pancasila utamanya "Sila, Ketuhanan Yang Maha Esa" dan "Sila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia".

Membandingkan manusia dengan hewan itu problematik tapi sulit untuk tidak dilakukan. Kita memang bukan hewan, tapi  kadang manusia bertindak menyerupai hewan padahal yakin bahwa dirinya bukan hewan.

Orang mengggunakan perbandingan dengan hewan untuk berbagai ekspresi, banyak di antaranya yang positif. Hewan yang imut dan kecil, misalnya, dipakai sebagai nama kesayangan untuk anak-anak atau kekasih. Hanya saja penyebutan dengan menyamakan hewan tertentu dianggap rasialisme.  Seperti dengan kata Anjing, Babi, Monyet, Onta


Sementara itu, hewan yang memiliki nilai tertentu dijadikan simbol sifat manusia: orang yang berani disebut berhati singa; orang yang mahir menilai sesuatu disebut bermata elang. Orang-orang mengidentifikasikan diri dengan hewan yang menjadi lambang atau maskot klub-klub sepakbola.

Secara lahiria dan tinjauan dari segi agama utamanya Moeslim bahwa penyebutan dan penyamaan Manusia dengan hewan adalah melanggar Aqidah dan itu tidak dibenarkan.  Dalam ajaran Agama Hewan dan Manusia sangat berbeda meski sama-sama ciptaan Tuhan.

Dalam konteks Papua, menghina orang Papua dengan sebutan monyet adalah model rasis lama. Dalam teori Darwin, monyet adalah perkembangan makhluk pada tingkat yang belum sempurna. yang berarti belum mencapai tahapan menjadi manusia. Teori Darwin ini dalam kaitan teori rasisme sering dipakai untuk menjelaskan dominasi kulit putih terhadap kulit berwarna, khususnya kulit hitam.  Ini salah satu teori yang tak pantas diikuti menurut Penulis karena hampir semua Ras di Dunia ini tak ingin disebut Dengan "Monyet" padahal ada sebagian yang masih percaya bahwa teori Darwin itu benar adanya.

Intisari permasalahan diluar Natalius Pigai dan Mahasiswa Surabaya yang Pada waktu bersamaan, mahasiswa Papua yang dikabarkan tidak mengibarkan bendera Merah Putih di Surabaya, disisi lain Wali Kota Sibolga mengkritik warga keturunan Tionghoa yang tidak mengibarkan bendera di sana. Kritik wali kota ini juga viral, tapi tidak ada tindakan aparatur di sana.

Berikut pernyataan Natalius Pigai saat disebut beliau sebagai "Monyet" 

"Di Negeri ini para pemimpin memancari kesalahan saya, rakyatnya mencari kelemahan fisik. Hitam, jelek, pendek, muka setan, anjing, babi, bahkan monyet.

Saya telah menyimak dan mencatat semua, saya tahu semuanya dan identitas kalian. Sebanyak 723 orang menghina saya di Media Sosial, saya juga secara detil mencatat dari suku mana dan dari daerah mana dan marga apa. Hanya karena bekerja tulus dan penuh "cinta kasih" demi kemanusiaan meskipun berbeda keyakinan.

"Tuhan ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yg mereka perbuat. Kalau saja Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria berkehendak saya pulang kampung memimpin Papua, kalian telah menyatakan tidak cocok hidup dengan saya yg monyet dan hitam ini" terima kasih."



Penulis: Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan

              HarapanRakyat

loading...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Disebut "Monyet" Apa Bedanya Natalius Pigai Dengan Mahasiswa Yang Disurabaya ? Rating: 5 Reviewed By: Rajawali Selatan