728x90 AdSpace

Info Terkini Rajawali Selatan
Rabu, 14 Agustus 2019

LGBT Adalah Penyakit Yang Harus Disembuhkan Bukan Dibiarkan


LGBT adalah penyakit dan telah ada sejak zaman Nabi Luth. Pengobatan pertama adalah menyadari dulu bahwa LGBT adalah suatu penyakit yang harus disembuhkan. LGBT Adalah Penyakit Yang Harus Disembuhkan Bukan Dibiarkan menjadi penyakit dan dilindungi dengan alasan HAM.

LGBT dijadikan  jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender/Transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas. 

Lesbian adalah wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesama jenisnya; wanita homoseks. 

Gay adalah pria yang mencintai dan merasakan rangsangan seksual sesama jenis (pria lainnya)

Biseksual adalah (1) mempunyai sifat kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan); (2) tertarik kepada kedua jenis kelamin (baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan). (KBBI Luring). 

Transeksual adalah perilaku seksual yang menembus batas-batas kenormalan (abnormal).

Kerusakan pertama kaum ini adalah pada pikirannya dan yang kedua adalah pada informasi yang diserap bahwa pengendali kehidupan manusia di bumi ini adalah otaknya. Jika hendak mempengaruhi dan mengubah seseorang maka seranglah pikirannya. Pikiran yang telah dibius oleh informasi tertentu selama beberapa waktu dan terus-menerus akan mempengaruhi sikap secara perlahan tapi pasti. Bisa dikatakan bahwa kaum LGBT adalah mereka yang pikirannya kosong (bodoh, tidak ada kerjaan dan atheis) yang terus-menerus terpapar oleh informasi yang salah selama bertahu tahun.

Dampak buruk menjadi LGBT

Kerusakan kaum LGBT bukan saja dalam hal penampilan melainkan lebih kepada kelainan seksual yang berlebihan. Pada dasarnya, semua ini berawal dari bias informasi yang diterima dan diyakini. Keadaan ini semakin diperparah dengan menurun, berkurang bahkan menghilangnya pengendalian diri terhadap hawa nafsu yang sesat. Berikut ini beberapa bahaya / dampak buruk menjadi LGBT.  Orang-orang terkena penyakit LGBT tidak serta merta menyesuaikan umur penderita akan tetapi dampak awalnya bervariasi yang terkadang masih berstatus balita, remaja, bahkan ada yang telah meranjak Dewasa ciri-itu baru nampak terlihat.  Pada fase awal itu yang sebenarnya diperlukan batasan-batasan pemikiran yang buruk kearah terjangkitnya tingkahlaku yang memungkinkan akan semakin parah atau mrenjadi pengidap LGBT sesungguhnya.

-Haus akan pengakuan

Kecenderungan manusia yang gila pujian akan terseret oleh orang lain untuk menjadi sesuatu. Padahal seungguhnya LGBT tidaklah harus mendeklarasikan pengakuan sebagai Hak Manusia untuk membuat dirinya menyalahi kodrat yang telah digariskan oleh Tuhan yang maha Esa sebagai manusia yang saling berpasang-pasangan.  Justru sebenarnya orang sekitarnyalah yang cenderung lebih menjerumuskan bagi pengidap LGBT karena kepintar-pintaran mereka memuji-muji padahal tindakan itu cenderung untuk menyuruh ketindakan keburukan. Banyak diantara mereka bahkan mengatakan "Kita Harus Melindungi Hak-hak LGBT" padahal itu adalah hanya pujian. Hal ini pulalah yang akan menjadikan suatu ketergantungan/kecanduan bagi sang penyandang LGBT untuk saling menyukai sesama jenis. Bahkan Para aktivis dan pendukung LGBT menggunakan hak asasi manusia sebagai ‘tameng-nya.  Jika sesuatu sudah membuatmu candu maka ada kecenderungan orang lain menggiringmu kepada hal-hal yang jahat. Daripada candu kepada manusia maka lebih baik candu kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian.

- Hubungan yang tidak direstui oleh pemerintah dan agama

Pemerintah konsisten menjalankan konstitusi untuk tidak melayani perkawinan sejenis merujuk pada Undang-Undang Perkawinan. Kebijakan ini merupakan sikap tegas pemerintah merespon wacana keberadaan komunitas Lesbian, gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia yang saat ini terus menggelindingkan isu-isu dan kampanye atas hak-haknya
Al-Quran sebagai sumber ajaran agama Islam di dalamnya terdapat sejarah masa lampau yang pernah di alami oleh Nabi Luth dengan kaumnya. dalam Islam setiap aturan syariat pasti membedakan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki ada seperangkat aturannya sendiri. Pun perempuan ada seperangkat aturannya sendiri. Dan, dalam Islam tidak ada jenis kelamin ketiga. Laki-laki ya laki-laki, perempuan ya perempuan.

Di dalam Firman Allah bahwa: “ Maka tatkala datang azab kami, kami jadikan negeri kaum Luth itu yang diatas ke bawah (kami balikkan dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”(Qs. Al-Hud: 82-83)

Dalam pandangan Agama Kristen Hindu dan Budha juga memperingatkan bahwa homoseksual dan Lesbian adalah perbuatan dosa.

- Cenderung gonta-ganti pasangan

Hubungan seksual sejenis yang berganti-ganti pasangan menjadi ciri perilaku homo. Dalam hubungan perilaku homo yang biasa berganti-ganti pasangan, memang dikalangan heteroseksual kebiasaan berganti-ganti pasangan dan perselingkuhan juga banyak terjadi tetapi masyarakat umum melihatnya sebagai penyakit sosial daripada kewajaran, tetapi praktek berganti-ganti pasangan di kalangan homo sudah melekat dalam identitas homo itu sendiri dan dilakukan dalam intensitas tinggi jauh diatas perselingkuhan heteroseksual. Terlebih lagi, karena ketidak setiaan timbul dari kedua belah pihak, maka sering pihak yang ditinggalkan akan mengalami luka kejiwaan. Karena seringnya terjadi gonta-ganti pasangan, maka pelaku homo cenderung mengalami trauma kejiwaan yang dalam. Kecemburuan dan pertengkaran  yang keras sering terjadi pada pasangan homoseksual, bahkan sering terjadinya penganiayaan fisik sampai pembunuhan sebagai puncaknya.

-Beresiko menyebabkan penyakit seksual

Ada banyak dapat penyakit seksual yang dimbulkan dan merupakan dampak kesehatan terhadap perilaku kaum ini yang cenderung mempraktekkan gaya bercinta yang aneh dan tidak pantas sekaligus beresiko merusak organ. Misalnya saja @ral seks yang dapat merusak otot puboccacygeus (otot kegel) sehingga membuat otot di sekitar dubur lemah dan sering lepas kendali (pup/ pipis di celana tanpa sadar). 

- Rasa Keagamaan Hilang ( Atheis )

Dampak sosial berikutnya saat anda memilih untuk menjadi seorang “penyuka sesama jenis” adalah tidak diakui oleh agama manapun khususnya di Indonesia. Pengidap LGBT tidak mungkin memaksakan diri untuk berkeyakinan jika dalam kasus pemerintah berfatokan dalam agama untuk tidak menjadikan LGBT sebagai hal yang positif. Penolakan semacam ini akan menggiring sesorang untuk menjadi tidak lagi percaya dengan keberadaan Tuhan lalu menjadi seorang atheis. Agama dikesampingkan karena lingkungan yang mereka tekuni.

- Gila akan kebutuhan materi

Bagi mereka yang tidak memiliki Tuhan dengan pemahaman Atheis di dalam hati juga tidak memiliki prinsip hidup karena pikirannya sering bahkan selalu dalam keadaan kosong. Hal Inilah yang mendorong infirasi pemikirannya yang mudah dihasut oleh orang lain (orang disekitar, iklan, televisi, Medsos ) dan pikiran cenderung berhayal akan kemewahan. Kecenderungan menggilai (haus) hal-hal yang berbau materi akan lebih dikedepankan dibanding pemikiran kebahagian untuk mendapatkan keturunan.

- Beberapa dijauhi oleh keluarga

Beberapa survey menyatakan bahwa banyak diantara kaum keluarga tidak menyukai perilaku seks yang menyimpang semacam yang dilakukan LGBT. Walau ada yang merasa tidak masalah namun kemungkinan untuk ditolak sangat besar. Banyak diantara keluarga merasa risih dan malu ketika mempunyai keluarga yang mengidap penyakit LGBT.  Dengan situasi seperti ini akan memunculkan masalah baru dimana pengidap membutuhkan dukungan namun tidak ada kaum keluarga yang datang sehingga andapun Mulai dari sini anda menyadari bahwa jalan yang dipilih selama ini telah merusak kehidupan dri sendiri.

- Teman-temannya itu-itu saja

Beberapa teman yang awalnya belum kenal akan tetap ramah disisimu. Akan tetapi setelah mereka mengetahui kedok sebenarnya maka mulailah menjaga jarak dengan anda. Status sebagai pemilik orientasi seksual yang kacau balau akan membuat hidup kita berantakan. Semua ini telah menjauhkan kita dari pergaulan sehari-hari.

- Beberapa lahan pekerjaan kurang menerima orang-orang semacam ini
Ada beberapa tempat kerja yang tidak menyukai kaum ini, bahkan saat melamar kerja saja maka orientasi seksualnya segera ditanyakan baik secara langsung (wawancara) maupun secara tidak langsung.Kita his infotiment.

- Rentan stres

Ini merupakan akibat dari penolakan yang semakin luar biasa. Tanpa disadari, tekanan yang datangnya bertubi-tubi dari luar telah meluluh lantakkan suasana hati. Jika anda terus merenungi/ meratapi rasa sakit itu sehingga stres tidak akan pernah menjauh. Ini akan semakin diperparah jikalau hati belum benar-benar siap menerima buruknya situasi.

-Cenderung Mendapatkan Olok-olokan 

Tak dapat dipungkiri bahwa tingkah laku yang aneh dari pengidap LGBT akan menjadi bahan tertawaan dan ejekan bagi masyarakat luas yang menganggap itu hanya sebagai lelucon namun cenderung menjadi bahan olok-olokan.  Hal seperti inilah yang membuat pengidapnya tidak percaya diri dan kadang menghindari orang kebanyakan dan selalu merasa risih.


LGBT bukan masalah penampilan: setiap orang bisa saja menjadi tomboy atau gayanya agak kemayu tetapi mereka yang menjadi LGBT (lesbian, gay/ homoseksual, biseksual, transeksual) lebih menekankan tentang kelainan seksual. Otaknya yang telah dilemahkan, dirusak lalu ditata ulang (dicuci) oleh media informasi yang bertebaran di luar sana, baik yang online maupun yang offline. Keadaan ini semakin diperparah oleh karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu yang berlebihan. Oleh karena itu, untuk mencegah pencucian otak semacam ini, alangkah lebih baik jikalau anda lebih selektif dan kritis menyimak informasi sembari memfokuskan pikiran kepada hal-hal yang baik dimana salah satu penjaga yang setia dan ajaib adalah dengan senantiasa memfokuskan pikiran pada doa, membaca firman dan nyanyian pujian.

Faktor Penyebab Terjadinya LGBT
1. Faktor Lingkungan


Faktor lingkungan bisa memicu terjadinya LGBT, misalnya saja karena salah pergaulan. Dalam berteman, sudah selayaknya kita "memilih" teman yang memiliki perilaku baik. Ketika seseorang berteman dengan orang yang termasuk LGBT, ada kecenderungan dia akan ikut menjadi anggota LGBT disebabkan faktor pengaruh teman. Jadi, lingkungan dan kebiasaan menjadi faktor pemicu paling besar terjadinya LGBT di Indonesia. Adanya pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia juga bisa menyebabkan penyimpangan perilaku ini terjadi.

2. Faktor keluarga 


Jika seorang anak mengalami kekerasan di lingkungan keluarganya, hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan dia menjadi LGBT. Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang mendapatkan perlakukan kasar dari ayah atau saudara laki-lakinya akan berpikir untuk membenci lawan jenisnya. Alhasil, dia memilih untuk hidup sebagai LGBT karena pengalaman hidup yang tidak mengenakkan.

Oleh sebab itulah, peranan di dalam keluarga sangat penting. Kehangatan dan keharmonisan keluarga akan mendorong anak untuk tumbuh normal dan wajar. Selain itu, jika kedua orang tua memberikan pendidikan agama dan moral yang baik, hal ini akan membentengi seseorang untuk menyimpang menjadi LGBT.

3. Faktor Genetik


Kemudian, faktor penyebab LGBT bisa terjadi ialah karena faktor genetik. Maksudnya ialah penyimpangan seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual ataupun Transgender bisa terjadi karena adanya riwayat keturunan dari anggota keluarga sebelumnya.

Dalam tubuh manusia, kromosom seorang laki-laki normal ialah XY dan perempuan yaitu XX. Namun, di kehidupan nyata, bisa ditemukan bahwa seorang laki-laki memiliki kromosom XXY. Kelebihan kromosom ini bisa menyebabkan dia memiliki perilaku menyerupai seorang perempuan.

Bahaya lain dari LGBT

Faktanya, penyebaran LGBT begitu cepat. Bahkan, yang tadinya terlahir sebagai perempuan atau laki-laki "normal" dapat terkena hal tersebut. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja karena dampaknya sangat besar. LGBT bisa membahayakan kesehatan, pendidikan dan moral seseorang.

a. Kanker anal atau dubur 


Para gay melakukan hubungan sek anal sehingga mereka memiliki resiko tinggi terkena penyakit kanker anal.

b. Kanker mulut 


Kebiasaan melakukan oral seks bisa menyebabkan kanker mulut. Sebab, faktanya rokok bukanlah satu-satunya penyebab kanker mulut terjadi. Hal ini sesuai dengan studi di New England Journal of Medicine yang dimuat di situs Dallasvoice.

c. Meningitis 


Meningitis atau radang selaput otak terjadi karena infeksi mikroorganisme, kanker, penyalahgunaan obat-obatan tertentu dan mengalami peradangan tubuh. Namun, hal lain diungkapkan dalam tulisan di DetikHealth bahwa meningitis terjadi karena penularan hubungan seks yang dilakukan oleh LGBT.

d. HIV/AIDS


Umumnya, para LGBT memiliki gaya hidup seks bebas dengan banyak orang sehingga kecenderungan terkena virus HIV/ AIDS sangat tinggi.

e. Dampak Pendidikan

Selain berdampak pada kesehatan, LGBT juga mempengaruhi pendidikan seseorang. Sebab faktanya, seorang LGBT memiliki permasalahan putus sekolah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan siswi atau siswa normal.

f. Dampak keamanan 


Adanya LGBT ini menyebabkan terjadinya pelecehan seksual terjadi di mana-mana. Bahkan, banyak kasus yang mana pelecehan tersebut terjadi pada anak-anak.

Cara Mengatasi LGBT

Karena dampak LGBT sangat mengerikan, sebaiknya ada upaya untuk mencegah timbulnya LGBT. Caranya antara lain sebagai berikut ini:

1. Menjaga pergaulan
2. Menutup segala celah pornografi misalnya dari gadget. Orang tua harus aktif dalam hal ini.
3. Diadakan kajian atau seminar mengenai bahaya LGBT di sekolah-sekolah
4. Adanya undang-undang yang melarang adanya LGBT sehingga hal ini tidak menyebar semakin parah.
5. Diadakan penyuluhan keagamaan mengenai LGBT yang menyimpang dari aturan agama. 


Penulis; Andi Ms Hersandy
Reftrensi Berbagai Sumber
loading...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: LGBT Adalah Penyakit Yang Harus Disembuhkan Bukan Dibiarkan Rating: 5 Reviewed By: Rajawali Selatan