728x90 AdSpace

Info Terkini Rajawali Selatan
Kamis, 30 April 2020

Pandemi Covid-19 dan Persatuan Bangsa



Oleh: Sitti Dahlia Azis

Tanggal 27 April 2020 saya temukan status seorang teman fb. Tertulis “Percaya atau tidak, anak ajaib ini ramal Corona berakhir tanggal 29 Mei 2020 mendatang.” Seorang bocah bernama Abigha Anand meramal virus corona  akan berakhir 29 Mei 2020 mendatang Ia bahkan telah memprediksi wabah ini sejak 8 bulan lalu, tepatnya pada tanggal 22 Agustus 2019. Lalu Abgha meramalkan bahwa dunia akan memasuki fase sulit mulai Nopember 2019 hingga April 2020.


Berbagai tanggapan nitizen muncul. Ada yang komen “Nggak ada gunanya percaya tukang ramal.” Saya ikutan komen di bawah gambar “Semuanya datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Kalau status yang baik , di-aamiin-kan saja supaya aman. Jangan sampai hanya karena pemberitaan dan status seorang tema di medsos membuat kita terpecah.

Berbagai tulisan menjamur . Baik informasi di medsos yang disebar gegap gempita. Memang mengerikan dan menakutkan. Yang sejatinya mengajak warga dan kita semua penduduk bumi berjaga-jaga. Jaga kebersihan (cuci tangan, jaga jarak, stay at home,  lockdown, bahkan karantina wilayah). Pakai masker dan di rumah saja apabila tidak ada keperluan mendesak.
Tulisan bahkan video bertebaran. Bahkan kegelisahan guru dan siswa yang sudah merindukan ingin berkumpul lagi. Libur ini terasa sangat panjang. “Kapan berjumpa lagi denganmu, guruku.” Kata mereka. Mengharukan sekali. Mereka masih antusias belajar. Mereka terkendala jaringan saat harus masuk belajar online pakai zoom. Sabar ya sayang.

Corona bagaikan cerita kolosal yang menggemparkan jagat raya. Pentas dunia tanpa rekayasa. Merasuk dan membantai raga. Tubuh lemah lunglai tak berdaya terhempas dan terkapar tiada daya.  

Covid 19. Makhluk nano itu telah mengajarkan pada manusia. Dia makhluk kecil yang tak terlihat tanpa pembesaran 2600 kali. Dia hanya satu makhluk Allah yang seakan diutus untuk memberi peringatan. Menghendaki setiap diri menyadari pentingnya kebersihan dan makanan yang halal. Misalnya : cuci tangan bermakna agar kita menjaga kebersihan. Jaga jarak himbauan ini mari kita tinjau dari sisi positifnya. Ini artinya bergaul  jangan terlalu bebas tanpa batas (e, bukan berarti yang sudah pasutri halal yang jaga jarak tidak bersentuhan ). Stay at home,berarti berdiam di rumah karena di luar banyak bahaya. Bahaya yang bisa merusak akhlak dan aqidah. Mata … bibir perlu dibiasakan dengan memakai masker (ditutup) dan dengan karantina 14 hari. Ini bermakna agar kita menahan diri dari fitnah dan ghibah atau bully.

Terkait belajar online. Pemanfaatan hp android, wa, webex dan zoom. Vicom bisa saling melihat itu jalan dan solusi agar PBM (Proses Belajar Mengajar)  tetap berjalan walau tidak seefektif jika dilaksaksanakan secara tatap muka. Disini juga punya hikmah. Dengan stay at home akan terjalin kedekatan dalam sebuah keluarga. Orang tua yang selama ini sebagai aktivis atau orang kantoran , pergi pagi pulang malam, mempunyai kesempatan memantau anak-anaknya belajar di rumah. Teman sejawat saling merindu dan sedikit terbayarkan pada saat daring (bisa rapat atau dialog via zoom)

Sebagai guru PKN saya berniat mengajak pembaca untuk bijak dalam menyikapi keadaan ini. Himbaun pemerintah atau fatwa ulama janganlah dipertentangkan. Baiknya kita semua berterimakasih pada mereka yang peduli ummat/rakyat. Berpositif thingking saja.tetap menjaga silaturrahim dimasa sulid covid 19. Perkuat aqidah dan tetap teguh menjalankan syariat agama masing-masing. Perbaiki akhlak Sesungguhnya covid 19 memberi hikmah bahwa manusia tiada daya dan kekuatan selain atas kehendak-Nya. Kembali introspeksi diori : Apakah musibah sekedar cobaan atau peringatan. Mohon ampunan Allah.Sebagai bangsa Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila, tetap satu wawasan kebangsaan walaupun dalam perbedaan.

Yakinkan dan terapkan bahwa kita kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia tetap utuh menyeluruh dalam satu kesatuan negara Republik Indonesia. Persatuan dan kesatuan yang terbingkai dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika … Kita bisa “Bersama Melawan Covid 19.” Sempga dengan kebersamaan … rasa senasib sepenanggungan membuat kita kuat dan sukses. Aamiin 


loading...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

5 komentar:

  1. Balasan
    1. Terimakasih Om Jay P(Wijaya Kusumah) ...sayasalah seorang binaan bapak. Akan terus belajar dan mengikuti jejak bapak. Semoga sehat dan bahagia.

      Hapus
  2. Terimakasih Om Jay (Pak Wijaya Kusuma). Saya salah seorang binaan bapak ♥️🙏

    BalasHapus

Item Reviewed: Pandemi Covid-19 dan Persatuan Bangsa Rating: 5 Reviewed By: Rajawali Selatan