728x90 AdSpace

Info Terkini Rajawali Selatan
Selasa, 28 Juli 2020

ANDROID DAN PENDIDIKAN KARAKTER



Oleh : Dra. Sitti Dahlia Azis
         
Proses belajar mengajar (PBM) di setiap sekolah sebelum bulan Maret 2020 masih berlangsung normal. Siswa SMA baru saja usai melaksanakan USBK (Ujian Sekolah Berbasis Komputer). Ada beberapa sekolah telah mengadakan renungan dan doa bersama, juga ada yang melaksanakan upacara terakhir untuk siswi kelas XII. Tidak terduga, di sela persiapan UNBK kita semua dikejutkan dengan kehadiran pandemic Coronavirus (Covid-19). Bagaikan aktor tanpa dosa … melenggang dan memasuki lorong-lorong kehidupan setiap negeri. Dikenal dan semakin viral. Ngeri. Tak da lagi ujian nasional. Kelas X dan XI harus belajar daring. Bukan hanya SMA/SMK/MA, siswi SMP dan SD bahkan mahasiswa semuanya belajar daring. 

Istilah stay at home, lockdown, hand zanitazer, social ditanding dulunya tidak pernah kita dengar kini jadi trend. Kata daring (online) sangat akrab di telinga pelajar TK, SD, SMP, SMA dan sekolah sederajat juga mahasiswa. Di kalangan guru, dosen juga pejabat aktiv bahkan sudah menjamur kegiatan webinar. Webinar digiatkan sebagai pengganti rapat (meeting), Aktivitas ini di masa normal sering dilakukan oleh para pengusaha, kini sudah merata di kalangan warga. Seolah sudah menjadi kebutuhan dan pembiasaan. Bagi yang benar-benar mengejar ilmu tentu memilah dan memilih pemateri yang handal.
            
Era digital, menuntut penguasaan pemanfaatan tekhnologi. Grup Whatshapp menjamur. Dibuatlah grup belajar dan pelatihan. Seperti halnya saya,  liburan panjang masa pandemik saya isi dengan belajar menulis prosa dan fiksi. Membuat buku antologi dan berusaha membuat karya tunggal (solo).

~ Era Digital dan Sekolah
            
Dulu, sekitar 5 tahun lalu, banyak diantara kita belum akrab dengan handphone Android. Dalam satu instansi … pengguna Whatshapp masih terhitung jari, terutama di pedesaan. Pengguna Facebook ada, namun belum sebanyak saat sekarang ini.
            
Saat itu ditempat kami HP yang dipakai nelpon ya HP tanpa memori. Kalaupun ada Android itu juga hanya dimanfaatkan nelpon. 5 tahun lalu masih ada sweeping pengguna handphone Android  atau handphone yang berisi memori. Sidak (inspeksi mendadak)  kepada siswa ini dilakukan oleh Kepolisian Resort. Kalau ditemukan gambar atau video jorok apalagi yang berbau pornografi, maka handphone disita oleh guru atau wali kelas. Memori dicopot dan tidak dikembalikan. Atau guru menghapus isi memori.
            
Masih beruntung kalau seperti ini. Handphone disita oleh guru. Belakangan ini pernah ada larangan membawa handphone ke sekolah. Dan saya pernah membaca berita, di sebuah pesantren HP siswa dihancurkan (astagfirullah) … saya kurang setuju dengan cara ini. Tidak adakah solusi lain bapak/ibu? Mereka anak kita juga. Benda itu dibeli mahal oleh orangtuanya. Niat untuk dijadikan alat komunikasi, memantau anaknya.
            
Jeda waktu sweeping HP dari Kepolisian, saya tidak melanjutkan menggeledah tas siswa. Saya menghargai anak didik. Mereka juga punya privacy, bukan anak TK dan SD. Saya sebagai guru PKN hanya memberikan arahan dampak positif dan negatif adanya larangan. Membawa handphone bukanlah suatu pelanggaran berat. Yang salah kalau memori handphone diisi dengan film sadis dan pornografi lalu siswa mempraktekkan. Memang perlu kerjasama dalam hal pemantauan kepada anak didik.
           
Terkait penggeledahan tas (sidak), saya malah berpikir, baiknya sidak benda tajam dan narkoba serta zat aditif lainnya. Up. Itu ada pada kajian lain.
              
Sikon pemanfaatan handphone saya siasati. Sebagai guru harus kreatif dan inovatif. Menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan namun efektif. Guru bukan hanya sekedar mengkritik kekurangan siswa namun alangkah baiknya jika guru mampu memotivasi, mengayomi dan membimbing siswa.
            
Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Kini guru dan pegawai … terlebih yang PNS sibuk mencari jaringan. Mulailah dikenal absensi online. Kalau di Sulawesi Selatan ada yang Namanya E-Panrita. E Panrita adalah absensi yang dapat mendeteksi wajah, jam dan lokasi/jarak orang yang mengabsen diri dengan kantor.Nah, bukankah ini malah butuh alat yang disebut Android? Guru dan pegawai berlomba datang karena apabila foto dirinya belum terkirim sedangkan waktu menunjukkan jam 07.15 waktu setempat (WITA) berarti di info kehadiran adalah TM (Terlambat Masuk). Nah, giliran kami berburu jaringan … seperti anak-anak yang bermain Pokemon. Bayangkan, betapa risaunya kami yang sudah buru-buru tiba di sekolah, tanpa sarapan karena harus absensi, setidaknya tepat waktu.

Tentang larangan membawa Android dikalangan siswa. Tentu ada dampak positif dan negatifnya. Masalah HP ini kita sudah tau telah menimbulkan pro dan kontra. Mari kita lanjutkan, namun tetap terkendali dalam control guru dan teman sebaya. Ada guru yang menyita HP Android siswa, jangan disalahkan. Gurunya mengganti dengan permainan Rubi. Saya mengamati dan tetap gaul dengan siswa di waktu istirahat. Menyenangkan juga. Sejenak dapat mengalihkan perhatian dari game online. Apakah ini bukan sekedar isi waktu istirahat, karena ada permintaan atau anjuran wali kelas?
            
Mari kita tinjau dari segi Pendidikan karakter. Tentu saja penggunaan HP Android ada dampak yang tidak diinginkan oleh orang tua, pendidik dan masyarakat. Diantaranya seperti berikut ini :

  • Adanya sikap acuh atau cuek, kurang peduli pada orang tua, lingkungan dan juga pelajaran
  • Sikap malas, kurang tanggap pada situasi sekeliling karena perhatian focus ke handphone
  • Pikiran terkontaminasi, berangan-angan dan berpikir apa kelanjutan game yang telah dibuka.
  • Mata cepat rabun di usia yang masih belia. Badan kurus dan tidak peduli makan. Ibadah terbengkalai.

Kita semua tak boleh apatis. Tak mungkin pula sanggup mengisolasi diri dari pengaruh perkembangan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan Teknologi). Solusi yang baik adalah menguasai IPTEK itu sendiri. Menguasai di sini dalam artian kita belajar dan berinovasi bagaimana memanfaatkan IPTEK kearah yang positif dan bermanfaat.
            

Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang benar, yakni dibarengi dengan penigkatan iman dan taqwa menjadi solusi bagi pembinaan karakter siswa. Pihak sekolah baiknya mengantisipasi dengan memberikan pemahaman dan kebijakan  yang memberi perubahan mindset untuk menggunakan tekhnologi (dalam hal ini Android). Manfaatkan untuk meningkatkan kinerja dan prestasi, baik dikalangan guru (tenaga pendidik) dan pegawai (tenaga kependidikan).

Penggunaan dan pemanfaatan Android dan hasil peningkatan teknologi lainnya
terkait peningkatan mutu pendidikan dan pembinaan karakter. Sejak dini, diupayakan :

Giatkan MGMP agar guru bisa sharing metode pembelajaran yang menyenangkan, Tentu saja nantinya akan ditemukan cara pembuatan video pembelajaran berbasis Android. Bisa saja guru meminta siswa perkelompok melakukan sosiodrama atau wawancara terkait materi yang diajarkan.

Terapkan Edu Taintment, suasana belajar yang menyenangkan. Siswa biasanya lebih menyukai belajar dengan suara dan gambar. Maka gunakan handphone untuk mendowload film documenter atau video destinasi wisata, atau bersama kelompok membuat scenario terkait materi pelajaran, lalu minta siswa menanggapi.  Ini dapat dibuatkan videonya.

Pelatihan Microshop 365. Guru, pegawai dan peserta didik usahakan ikut dan mampu menggunakan aplikasi ini. Tentu saja ini perlu ditunjang oleh sarana dan prasarana berupa laboraturium computer, jaringan wifi dan proyektor di kelas

Poin pertama dan kedua, sepertinya tidak ada kendala. Soal dana … kita bisa
berbesar hati dengan adanya dukungan pemerintah di bidang Pendidikan melalui dana APBN

Soal kekurangan tenaga pendidik (guru)? Pakai guru honorer. Tempatkan alumni sesuai job atau basic ilmunya. Pesan untuk rekan guru honorer … tetaplah memacu potensi diri. Bangun kemitraan dengan teman sejawat. Kalian punya potensi dan tenaga. Kalian punya andil dalam mencapai tujuan negara yakni mencerdaskan kehidupan bangsa

Guru. Teruslah berkreasi dan memotivasi. Usahakan beri semangat dan tidak mematikan rasa dan karsa anak didik. Masih banyak anak bangsa yang ingin berbuat baik. Beri mereka jalan dan peluang.

Kalau benar mencintai tugas, mencintai anak didik, maka sayangi mereka dengan tulus. Mereka punya hak untuk belajar sebagai anak bangsa dan kewajiban guru merangkul sebagai insan yang ingin dicerdaskan. Guru bukan untuk ditakuti tapi disenangi oleh siswa. Yang utama guru tunjukkan keteladan yang berbalut kasih sayang.

Guru memang hebat. Guru dapat berperan sebagai orang tua. Di lain waktu sebagai sahabat. Itulah sebutan yang pantas … guru profesional. PNS punya kompetensi … punya sertifikasi sebagai penunjang peningkatan kinerja.

~ Kesimpulan dan Penutup

Mari mendidik dengan hati bukan dengan keegoan.Top leader tetap ingat semboyan Ki Hajar Dewantoto :
1.    Ing Ngarso Sung Tulodo
2.    Ing Madyo Mangun Karso
3.    Tut Wuri Handayani

Wajah generasi mendatang adalah refleksi mutu pendidikan saat ini. Tugas guru mulia. Maka beri peluang dan kesempatan kepada anak didik. Jadilah guru yang mencintai bukan untuk ditakuti tapi agar disenangi siswa.

Penulis: Pemerhati Pendidikan, Pendidik. 

loading...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: ANDROID DAN PENDIDIKAN KARAKTER Rating: 5 Reviewed By: Rajawali Selatan