728x90 AdSpace

Info Terkini Rajawali Selatan
Selasa, 07 Juli 2020

Arah Pengendalian Covid, Mencegah Lebih Baik, Catatan Untuk Kota Makassar


Oleh: Yansi Tenu



Makassar telah menjadi epicentrum baru covid 19 setelah beberapa bulan, termasuk Surabaya dan beberapa daerah lainnya, epicentrum baru ini telah memakan korban yaitu Penjabat Sebelumnya di copot oleh Gubernur Selawesi Selatan,  dengan masa jabatan sangat singkat 43 hari dengan alasan tidak mampu berkoordinasi sehingga  penambahan covid yang terpapar terjadi peningkatan yang sangat tinggi, menurtut versi Gubernur Sulsel, namun setelah data di paparkan malah sebenarnya terjadi penurunan dari warga ynag terpapar virus corona.

Peningkatan warga yang terpapar virus covid 19 makin menunjukkan gejala yang sangat cepat, perhari ada peningkatan sekitar 50 orang terpapar dan Makassar menjadi penyumbang terbesar yang terpapar virus covid 19 di Sulawesi selatan, Jika Makassar bisa di turunkan potensi terpaparnya maka Sulsel bisa cepat landai “ kata Gubernur Sulsel “ apakah karena tes yang di lalukan massif sehingga data peningkatan warga terpapar terjadi peningkatan ? ataukah masih belum banyak yang di tes sehingga angka masih mungkin bertambah ? ataukah memang kesadaran warga yang makin lemah terhadap bahaya virus ini ? ataukah kebijakan yang belum sinkron dengan situasi yang ada ?  pertanyaan ini akan coba kita urai sehingga kita dapat melihat titik dimana proses itu berlangsung dan apa penyebab terjadinya peningkatan warga yang terpapar.

Tes yang massif

Tes yang massif dengan rapid tes adalah cara untuk mengetahui kontak dengan orang yang terpapar agar mudah di tracing sehingga penularan virus ke orang lain dapat di kendalikan pada saat paparan awal di ketahui, rapid tes hanya akan memberikan data reaktif dan non reaktif  bagi orang yang kontak dengan terpapar virus covid, jika reaktif maka harus di lanjutkan dengan PCR dengan metode SWAB tes, agar yang reaktif dapat karantina mandiri, begitu pula yang non reaktif agar dapat di ketahui setelah 14 hari apakah virus itu menginveksi atau tidak.

Rapid tes hanya dapat di gunakan untuk mencegah penularan ke orang lain dari yang terpapar positif covid 19, namun tidak dapat menjadi acuan bagi orang yang akan mengunakan misalnya untuk perjalanan kedaerah lain karena rapid tes bukan untuk mendeteksi keberadan virus, namun hanya mengetes anti body seseorang jika sudah berinteraksi dengan orang yang positif terinveksi, jika di gunakan untuk perjalanan misalnya maka harus dengan metode PCR dengan sampel swab yang dapat mendeteksi keberadaan virus di hidung atau di mulut.

Semakin banyak jumlah tes maka kasus makin banyak akan di temukan sehingga penanganan yang telah kontak dengan postif virus dapat di kendalikan penularan keorang lain, dengan karantina mandiri, atau karantina dengan penanganan yang lebih baik sehingga mereka yang telah kontak dapat melawan virus dengan imun tubuh, bantuan ke warga yang telah kontak dengan yang positif berbagi vitamin makanan bergizi tempat yang  nyaman akan membantu warga untuk menahan virus dari imun tubuhnya, pangkat ODP ( orang dalam pemantaun ), PDP ( pasien dalam pemantauan ) akan kita sandang selama 14 hari kedepan dan control ketat adalah wajib. Semakin banyak orang yang di tes maka semakin baik dan semakin dapat di kendalikan penularannya dan sekaligus mengendalikan penyebarannya.

Apakah warga yang tidak taat terhadap protokol kesehatan ?

Warga masyarakat adalah penentu 70 % dari proses pengendalian covid 19 ini, jika warga tidak taat maka akan sia-sia proses yang telah berjalan dan yakinlah orang yang terpapar kemudian terinfeksi akan semakin meningkat dan ruang perawatan sangat terbatas dan para tenaga medis juga akan semakin lelah dan akhirnya tumbang, banyak tenaga kesehatan telah menjadi korban dari ganasnya virus ini.

Ketaatan warga akan bahaya virus, menjadi titik penentu  menjadi titik penentu sehingga edukasi, sosialisasi dan komunikasi tidak boleh berhenti, kebijakan pemerintah juga dapat menjadi sangat menentukan untuk mendisiplinkan warga sehingga antar kebijakan dan proses penyadaran warga harus berjalan secara paralel sehingga warga dapat menaati proses yang telah di lakukan dan mau sadar akan bahaya virus ini.


Kebijakan yang cocok dan pas

Beberapa kebijakan yang tekah di keluarkan setelah PSBB yang bisa menekan angka penularan dan PSBB tidak di teruskan sehingga ada transisi di mana warga merasa telah ada pelonggaran, pada saat PSBB tidak di perpanjang dengan harapan ada beleid dari pemerintah pusat untuk menerapkan “new normal” namun tidak mendapatkan ijin sehingga peningkatan kasus mulai terasa, walapun data Rt. ( reproduksi time )  R yang melambangkan jumlah orang yang bisa di tulari dari seorang pengidap virus covid 19, terjadi penurunan penularan namun tidak menjadi di bawah 1 sehingga kasus tetap meningkat tajam, 1 positif covid 19 dapat menulari 1 atau lebih orang lain.

Mengapa kebijakan harus cocok dan pas dengan situasi masyarakat, karena kebijakanlah paling tidak akan mengiring warga kearah kepatuhan dan kebijakanlah yang dapat di sampaikan ke warga akan apa yang akan di lakukan oleh pemerintah daerah, jika eduaksi dan komunikasi ke warga tidak pas atau tidak cocok dengan kebijakan maka kebijakan tidak akan di patuhi, warga boleh jadi patuh bermasker jika keluar rumah, namun lingkungan rumah yang rapat dan lingkungan yang padat akan susah menerapkan bermasker setiap keluar rumah, karena begitu keluar rumah warga langsung berinteraksi dengan warga lainnya karena padatnya lingkungan.

Merubah pola hidup warga bukan pekerjaan mudah, fungsi sosialisasi dan edukasi di daerah yang lingkungan padat penduduk memang mesti massif, pengawasan mesti ketat, interkasi antar warga harus ketat protokol kesehatannya dan yang paling penting adalah kebijakan menyiapkan alat pencuci tangan yang baik, kemudian pembagian handsanitiser  gratis, masker gratis dan selalu di lakukan penyampaian lewat mesjid yang berada di lokasi warga, pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama sehingga warga berangsur angsur sadar akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Edukasi harus sesuai dengan kebijakan

Selanjutnya kebijakan tentang tetap di rumah dan jangan keluar rumah serta perjalanan harus di sesuaikan, jika warga di larang berkerumun di tempat keramaian maka kebijakan tentang tempat keramaian dan potensi berkumpulnya warga harus di hindari dan di atur sedemikian rupa agar potensi warga berkumpul tidak terjadi, mall buka dengan waktu tertentu, warkop buka dengan waktu tertentu,  oleh raga warga di hari minggu juga di pecah menjadi beberapa tempat, pasar tradisional harus di atur waktunya agar interaski antar pembeli dan penjual tidak padat.  pelarangan bepergian maka kebijakan tentang angkutan umum dan pribadi wajib juga di kendalikan agar warga tahu bahwa pengendalian tetap di lakukan. Akan tidak bijak jika warga di larang berkumpul tapi tempat berkumpul di buka, melarang warga bepergian namun arus transportasi angkutan umum dan pribadi tdiak di awasi maka tidak akan warga patuh dengan himbauan. KEBIJAKAN HARUS BERBANDING LURUS DENGAN EDUKASI AGAR WARGA TAHU DAN TAAT AKAN KEBIJAKAN ITU. ( the end )

Penulis: Pemerhati Masalah Sosial
loading...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Arah Pengendalian Covid, Mencegah Lebih Baik, Catatan Untuk Kota Makassar Rating: 5 Reviewed By: Rajawali Selatan